You have read 3 stories. Sign up for free to access all our stories.
You have read 3 stories. Sign up for free to access all our stories.
You have read 3 stories. Sign up for free to access all our stories.
You have read 3 stories. Sign up for free to access all our stories.
You have read 3 stories. Sign up for free to access all our stories.
You have read 3 stories. Sign up for free to access all our stories.
You have read 3 stories. Sign up for free to access all our stories.
You have read 3 stories. Sign up for free to access all our stories.
You have read 3 stories. Sign up for free to access all our stories.
You have read 3 stories. Sign up for free to access all our stories.
You have read 3 stories. Sign up for free to access all our stories.
You have read 3 stories. Sign up for free to access all our stories.
You have read 3 stories. Sign up for free to access all our stories.
You have read 3 stories. Sign up for free to access all our stories.
You have read 3 stories. Sign up for free to access all our stories.

Akankah konsumen Asia membayar untuk energi bersih?

Apakah orang-orang di Asia, yang sangat peka terhadap harga, hanya akan membeli energi bersih apabila harga murah? Eco-Business berbicara dengan para pengusaha energi bersih tentang kenapa pola perilaku konsumen tertinggal dibandingkan tren investasi di Asia, dan apa yang dapat dilakukan untuk mendorong lebih banyak orang beralih ke listrik bersih.

[Bahasa] Do Asian consumers care how clean energy is - as long as its cheap?
Infrastruktur jaringan yang ada dan harga saat ini telah menekan permintaan konsumen akan energi bersih, tetapi ada perubahan yang sedang terjadi. Image: xshot via shutterstock CC BY-NC-ND 2.0

Energi bersih sedang meningkat, bahkan di Asia, di mana bahan bakar fosil masih memainkan peran penting dalam kawasan ini. Konsumsi energi terbarukan di Asia diproyeksikan akan meningkat dua kali lipat dalam dekade ini.

Pertanyaan besarnya adalah apa yang membuat konsumen di kawasan ini beralih ke listrik bersih? Apakah orang-orang di Asia, yang sangat peka terhadap harga, hanya akan membeli energi bersih apabila harga murah?

Sebuah survei konsumen dari GlobalData tahun 2019 menunjukkan bahwa 45 persen konsumen di Asia Pasifik memilih membeli produk yang “baik bagi lingkungan”.

Konsumen Asia juga mengharapkan produk yang peduli kepada masyarakat.

Dibandingkan dengan 41 persen di AS dan 46 persen konsumen di Inggris, 58 persen konsumen Asia lebih suka melihat produk-produk yang memiliki inisiatif yang berarti bagi komunitas mereka.

Namun, apakah sentimen ini bisa diterjemahkan menjadi konsumsi energi dari masyarakat?

Martin Lim, CEO dari pasar listrik ritel yang berbasis di Singapura, Electrify.sg, mengatakan bahwa meskipun minat investor meningkat untuk energi bersih di Asia, faktor konsumen tampaknya berada di bawah kurva. Dari sekitar 66.000 atap residensial di Singapura, kurang dari 1.400 memasang panel surya di rumah mereka, katanya. Mengapa?

Investasi awal sudah menghabiskan sekitar $20.000 (Rp214.478.400), sistem panel surya untuk rumah di Singapura masih membutuhkan sekitar 6-10 tahun sebelum mulai menyediakan “energi gratis” bagi pemilik rumah; setelah mengganti pengeluaran energi dari konsumsi rumah tangga.

Jeffrey Char, pendiri dan CEO SOGO Energy, sebuah perusahaan investasi energi terbarukan berbasis di Jepang yang melayani masyarakat pedesaan di negara-negara berkembang, percaya bahwa konsumen Asia masih cenderung agak sensitif terhadap harga, bahkan di negara-negara kaya seperti Singapura.

Bahkan jika ada perbedaan satu sen, persentase konsumen yang akan membayar ekstra mungkin akan turun dari 90 persen menjadi 10 persen.

Jeffrey Char, CEO dan pendiri, SOGO Energy

Meningkatnya tekanan finansial di kawasan ini, seperti utang rumah tangga, hanya akan meningkatkan sensitivitas harga bagi barang-barang “tidak esensial” atau “mewah”.

Selain itu, konsumen Asia dua kali lebih mungkin untuk mengencangkan dompet mereka setelah krisis ketimbang konsumen Amerika.

Menurut sebuah studi oleh Bain dan Facebook, 60 persen konsumen di wilayah Asia lebih banyak menyisihkan uang untuk hari-hari pasca Covid-19.

Karlo Edesson Abril, seorang manajer pengembang energi surya asal Filipina, SunAsia Energy, berpendapat bahwa status ekonomi masih menjadi penentu terbesar bagi individu untuk memilih berdasarkan isi dompet mereka.

“Keberlanjutan dan energi hijau adalah jalan yang harus ditempuh, tetapi bagi orang-orang yang hanya hidup dari hari ke hari, setiap peso berarti. Jadi, jika energi hijau murah, orang akan beralih, namun harga tetap masih menjadi perhatian utama.”

Apa yang menyebabkan kelembaman energi bersih di Asia?

Para ahli telah menyepakati bahwa kurangnya permintaan konsumen bukan karena energi terbarukan tidak efektif, dan laporan-laporan terbaru membuktikan energi terbarukan merupakan energi dengan biaya rendah di banyak negara.

Tetapi, ada faktor-faktor yang lebih besar yang membuat peralihan energi menjadi kurang diminati.

Salah satunya, energi bersih mungkin lebih mahal di negara-negara maju karena jaringan yang ada dan harga yang mendukung sumber energi tradisional.

“Di Singapura, Anda tinggal menekan tombol dan lampu menyala. Di bagian lain di Asia, ada orang-orang yang generatornya selalu mati karena infrastruktur yang buruk. Mereka menggunakan bahan bakar fosil dengan cara yang sangat suboptimal, dan akhirnya menjadi sangat mahal dan sangat kotor. Apabila harus memilih antara berinvestasi dalam energi bersih versus bahan bakar fosil sedari awal, masuk akal bagi mereka untuk memilih yang pertama,” jelas Jeffrey.

Hal ini yang membuat kawasan rural di Asia dan Afrika bisa melampaui negara ekonomi maju terkait energi bersih “dengan cara yang sama saat mereka tidak membangun jaringan telepon dan langsung ke telepon seluler,” katanya.

Berlaku adil

Ketika pencapaian target iklim global kemungkinan akan bergantung pada permintaan listrik bersih di Asia, para pemangku kepentingan menggunakan berbagai pendekatan untuk membantu konsumen beralih energi.

SOGO memungkinkan kliennya untuk sepenuhnya menghindari biaya transmisi dengan memasang tenaga surya secara lokal, memberikan keunggulan kompetitif sebesar 9 yen (Rp1.180).

Pada tingkat pemerintahan, dukungan sepertinya berada di jalur yang benar. “Saya pikir Departemen Energi Filipina patut dipuji karena mulai menghitung pembangkitan alih-alih kapasitas, lebih melihat harga yang berpusat pada konsumen (kilowatt-jam) daripada kapasitas terpasang,” kata Karlo.

Namun demikian, proyek energi bersih tetap sulit untuk tetap berkelanjutan secara finansial jika menguras dana negara dengan feed-in tarif.

Contoh terbaru dan menonjol adalah pemotongan feed-in tarif harga pembelian oleh pemerintah Jepang menjelang 2019, meskipun pengembalian investasi untuk pembangkit listrik tenaga surya pasca-Fukushima sangat menguntungkan.

“Investasi ladang panel surya [di Jepang] hanya membutuhkan waktu sekitar empat tahun atau kurang untuk mencapai titik impas, dua kali lebih cepat dari tempat lain di seluruh dunia,” kata Martin. “Tetapi feed-in tarif adalah model yang akhirnya berhenti karena preminya ditanggung oleh negara.”

Inisiatif pemerintah perlu dilengkapi dengan mekanisme pasar untuk mendorong permintaan.

Skema pencucian energi bersih?

Bahaya yang mengintai adalah bahwa konsumen mungkin membeli paket energi bersih termurah yang tersedia, yang mungkin tidak benar-benar mengurangi jejak karbon mereka.

Sejak peluncuran Skema Perdagangan Emisi Uni Eropa, 15 tahun lalu, yang mewajibkan para penghasil emisi besar untuk offset melalui proyek pengurangan karbon, ada kenaikan permintaan untuk offset karbon yang berujung kepada penipuan dan greenwashing.

Sertifikat Energi Terbarukan (REC), yang memberikan bukti karbon offset, adalah cara yang diandalkan untuk offset emisi.

Sementara proyek reboisasi biasanya memakan waktu dan biaya, proyek surya dan angin mudah diaudit bahkan dalam skala besar, jelas Kang Jen Wee, pendiri dan CEO perusahaan sertifikasi energi terbarukan Trecs.ai.

Tetapi, ini tidak sempurna; REC dapat dikenakan penghitungan ganda atau pelaporan palsu.

REC hadir lebih dari 10 tahun yang lalu sebagai alat untuk mengatasi kekurangan dalam sistem kredit karbon. Saat itu, tidak ada broadband berkecepatan tinggi, tetapi hari ini kita dapat melihat data secara real-time untuk menghindari greenwashing.

Martin Lim, pendiri dan CEO, Electrify.sg

Untuk memastikan offset yang andal, ada perusahaan yang mengkhususkan diri dalam verifikasi, seperti Trecs.ai, yang meminta pertanggungjawaban penjual REC.

Dengan menggunakan teknologi blockchain, setiap transaksi dapat dilacak di domain publik dan konsumen dapat mengetahui asal energi bersih mereka dengan memasukkan nomor seri REC yang mereka beli.

Sementara itu, Electrify menghubungkan energi secara real-time, membatasi jumlah energi bersih yang dapat dibeli untuk offset emisi dalam suatu periode waktu. Ini memastikan tingkat konsumsi yang berkelanjutan.

Pada akhirnya, konsumen lebih cenderung beralih ke energi bersih jika mereka mengetahui manfaatnya.

“Jika kita memasukkan pendidikan lingkungan hidup ke dalam kurikulum umum, kita bisa mengedukasi semua orang tentang manfaat energi bersih,” kata Karlo.

Pelaporan Keberlanjutan juga merupakan cara penting bagi karyawan untuk lebih sadar akan pilihan konsumsi energi dan jejak karbon mereka, katanya.

Did you find this article useful? Join the EB Circle!

Your support helps keep our journalism independent and our content free for everyone to read. Join our community here.

Most popular

Featured Events

Publish your event
leaf background pattern

Transforming Innovation for Sustainability Join the Ecosystem →